Won Bin dan Sooyong merupakan teman lama yang baru saja bertemu di café. Mereka membicarakan bisnis fashion.
Won Bin : Hi, Sooyong! How are you?
Sooyong: Of course, I am fine. How about you?
Won Bin : Same, I am fine too. Now where do you live?
Sooyong : I am still living in Jakarta. But this time I was busy with my fashion business in Singapore. How about you?
Won Bin : Fashion business?! Sound very interesting. Will you tell me more about your business?
Sooyong : Of course. I am currently in the business field such as fashion boutiques. I just open a boutique in Singapore now.
Won Bin : What about your family who live in Indonesia?
Sooyong : My parents support me, they told me to focus in boutique in Singapore. How about you?
Won Bin: Okay, now I'm living my job as a supervisor of IT company in Singapore.
Sooyong: How long have you worked there and how the family in Indonesia?
Won Bin : Almost 3 years in Singapore. My family keeps support me. I got a permit from the office to be able to go home every month.
Minggu, 19 Oktober 2014
Sabtu, 11 Oktober 2014
Apa yang anda harapkan kedepannya dengan adanya telematika di indonesia ?
Harapkan
saya dengan adanya Telematika di Indonesia terus lah berkembang dan berinovasi
agar mampu menyaingi negara – negara yang terkenal akan
kecanggihannya, semakin baik dalam pemanfaatan, keamanan, serta menyampaikan
informasi agar telematika di Indonesia lebih baik lagi karena seperti yang
telah diketahui adanya Telematika sangat berpengaruh sekali dengan kehidupan
manusia saat ini kapan pun dan dimana pun. Karena disini telematika mempunyai
tujuan yang dapat digaris bawahi yaitu digunakan agar dapat mempermudah
mendapatkan suatu informasi dengan waktu yang singkat tanpa adanya kendala
dalam segi manapun contohnya jarak pengiriman informasi dengan jarak yang jauh,
mentransmisikan sejumlah besar informasi dalam sekejap, dengan jangkauan
seluruh dunia, dan dalam berbagai cara, yaitu dengan perantaan suara (telepon,
musik), huruf, gambar dan data atau kombinasi-kombinasinya
melalui media elektromagnetik. Tetapi dalam hal ini selain ada dampak positif,
ada juga dampak negatif dari adanya kemunculan telematika, dimana apabila
digunakan oleh orang yang kurang bijak, ataupun anak-anak dapat diselewangkan
dengan mencari sesuatu hal yang berbau seperti menyebarkan kabar berita yang tidak
benar adanya tentang seseorang, sehingga justru kabar berita tersebut akan
menimbulkan fitnah, serta terkadang masyrakat juga menyalahgunakan dengan
adanya Telematika saat ini seperti dengan ingin mengetahui keberadaannya
foto-foto atau video porno, atu hal-hal yang menyalahi norma yang ada hanya
untuk melihat ataupun mengunduhnya, karena hal tersebut telah menyalahi norma
agama maupun kesusilaan yang dianut oleh negara kita yang terkenal dengan adat
ketimurannya. Kemudian perlu adanya Peningkatan pengembangan infrastruktur
di seluruh wilayah Indonesia secara merata, membangun wireline broadband secara
luas, pemasyarakatan penggunaan software open source agar dapat digunakan pada
seluruh masyarakat Indonesia disegala lapisan agar tidak terkikis oleh perkembangan
zaman.
Asal Mula Kata TELEMATIKA
Para praktisi mengatakan bahwa TELEMATICS merupakan perpaduan dari dua kata yaitu dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah telematika juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” karena lahir dari perkembangan teknologi digital. Dalam wikipedia disebutkan bahwa Telematics juga sering disebut dengan ICT (Information and Communications Technology).
Salah satu milis internet Indonesia terbesar adalah milis Telematika. Dari milis inipun tidak ada penjelasan mengapa milis ini bernama telematika, yang jelas arsip pertama kali tercatat dikirimkan pada tanggal 15 Juli 1999. Dari hasil pencarian di arsip mailing list Telematika saya menemukan salah satu ulir diskusi menarik (membutuhkan login) tentang penamaan Telematika yang dikirimkan oleh Paulus Bambang Wirawan.
…Untuk mengerti makna TELEMATIKA yang menurut pak Moedjiono yang merupakan konvergensi dari
Tele=”Telekomunikasi”,
ma=”Multimedia” dan
tika=”Informatika”
kita perlu perhatikan perbedaan antara BIDANG ILMU.
Sementara dari hasil membaca Pengantar Telematika pada Mata Kuliah Hukum Telematika Universitas Indonesia tertulis sebagai berikut :
Dalam perkembangannya istilah Media dalam TELEMATIKA berkembang menjadi wacana MULTIMEDIA. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah Multimedia semula hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium. Adalah suatu ambiguitas jika istilah TELEMATIKA dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika. Secara garis besar istilah Teknologi Informasi (TI), TELEMATIKA, MULTIMEDIA, maupun Information and Communication Technologies (ICT) mungkin tidak jauh berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan sudut pandang pengkajiannya.
Jika membaca dari kedua tulisan diatas saya bisa menyimpulkan bahwa sampai saat ini kepanjangan Telematika masih rancu antara “Telekomunikasi dan Informatika” ataukah “Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika”. Saya sendiri dalam percakapan sehari-hari saya lebih sering menggunakan kata “IT” daripada Telematika ataupun ICT. Ataukah memang sudah seharusnya kita menggunakan kata Telematika untuk menggantikan kata IT ataupun ICT? Namun rasanya, kok terlalu dipaksakan ya, jika kita sendiri masih belum mengerti makna sesungguhnya.
Nah pertanyaannya sekarang, siapakah yang mencetuskan pertama kali kata-kata telematika di Indonesia? Orang ini harus bertanggung jawab untuk menjelaskan alasan dulunya di adopsi. Ini pertanyaan besar buat saya :)
Sumber:
http://dgk.or.id/archives/2006/03/30/asal-mula-kata-telematika/
Perkembangan Telematika Sebelum dan Sesudah Internet Muncul
Peristiwa proklamasi 1945 membawa perubahan yang bagi masyarakat Indonesia, dan sekaligus menempatkannya pada situasi krisis jati diri. Krisis ini terjadi karena Indonesia sebagai sebuah negara belum memiliki perangkat sosial, hukum, dan tradisi yang mapan. Situasi itu menjadi ‘bahan bakar’ bagi upaya-upaya pembangunan karakter bangsa di tahun 50-an dan 60-an. Di awal 70-an, ketika kepemimpinan soeharto, orientasi pembangunan bangsa digeser ke arah ekonomi, sementara proses – proses yang dirintis sejak tahun 50-an belum mencapai tingkat kematangan.Dalam latar belakang sosial demikianlah telekomunikasi dan informasi, mulai dari radio, telegrap, dan telepon, televise, satelit telekomunikasi, hingga ke internet dan perangkat multimedia tampil dan berkembang di Indonesia. Perkembangan telematika penulis bagi menjadi 2 masa yaitu masa sebelum atau pra satelit dan masa satelit.
Di periode pra satelit (sebelum
tahun 1976), perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia masih
terbatas pada bidang telepon dan radio. Radio Republik Indonesia (RRI)
lahir dengan di dorong oleh kebutuhan yang mendesak akan adanya alat
perjuangan di masa revolusi kemerdekaan tahun 1945, dengan menggunakan
perangkat keras seadanya. Dalam situasi demikian ini para pendiri RRI
melangsungkan pertemuan pada tanggal 11 September 1945 untuk merumuskan
jati diri keberadaan RRI sebagai sarana komunikasi antara pemerintah
dengan rakyat, dan antara rakyat dengan rakyat. Sedangkan telepon pada
masa itu tidak terlalu penting sehingga anggaran pemerintah untuk
membangun telekomunikasipun masih kecil jumlahnya. Saat itu, telepon
dikelola oleh PTT (Perusahaan Telepon dan Telegrap) saja. Sampai
pergantian rezim dari Orla ke Orba di tahun 1965, RRI merupakan operator
tunggal siaran radio di Indonesia. Setelah itu bermunculan radio –
radio siaran swasta. Lima tahun kemudian muncul PP NO. 55 tahun 1970
yang mengatur tentang radio siaran non pemerintah.Periode awal
tahun 1960-an merupakan masa suram bagi pertelekomunikasian Indonesia,
para ahli teknologi masih menggeluti teknologi sederhana dan “kuno”.
Misalnya saja, PTT masih menggunakan sentral-sentral telepon yang
manual, teknik radio High Frequency ataupun saluran kawat terbuka (Open
Were Lines). Pada masa itu, banyak negara pemberi dana untuk Indonesia –
termasuk pendana untuk pengembangan telekomunikasi, menghentikan
bantuannya. Hal itu karena semakin memburuknya situasi dan kondisi
ekonomi dan politi di Indonesia.Tercatat
bahwa pada masa 1960-1967, hanya Jerman saja yang masih bersikap setia
dan menaruh perhatian besar pada bidang telekomunikasi Indonesia, dan
menyediakan dana walau di masa-masa sulit sekalipun. Ketika itu
pengembangan telekomunikasi masih difokuskan pada pengadaan sentra
telepon, baik untuk komunikasi lokal maupun jarak jauh, dan jaringan
kabel. Indonesia saat itu belum memiliki satelit. Sentral telepon
beserta perlengkapan hubungan jarak jauh ini diperoleh dari Jerman. Pada
saat itu, Indonesia hanya dapat membeli produk yang sama, dari
perusahaan yang sama, yakni Perusahaan Jerman. Tidak ada pilihan lain
bagi Indonesia.
Keleluasaan barulah bisa
dirasakan setelah di tahun 1967/1968 mengalir pinjaman-pinjaman ke
Indonesia, baik bilateral ataupun pinjaman multilateral dari Bank Dunia,
melalui pinjaman yang disepakati IGGI. Akan tetapi, pada masa inipun
inovasi dalam pemfungsian teknologi telekomunikasi masih belum
berkembang dengan baik di negeri ini. Peda dasarnya kita memberi dan
memakai perlengkapan seperti switches, cables, carries yang sudah lazim
kita pakai sebelumnya.Badan
penyiaran televisi lahir tahun 1962 sebelum adanya satelit yang semula
hanya dimaksudkan sebagai perlengkapan bagi penyelenggara Asian Games IV
di Jakarta. Siaran percobaan pertama kali terjadi pada 17 Agustus 1962
yang menyiarkan upacara peringatan kemerdekaan RI dari Istana Merdeka
melalui microwave. Dan pada tanggal 24 Agustus 1962, TVRI bisa
menyiarkan upacara pembukaan Asian Games, dan tanggal itu dinyatakan
sebagai hari jadi TVRI.Terdorong
oleh inovasi, akhirnya pada tanggal 14 November 1962 untuk pertama
kalinya TVRI memberanikan diri melakukan siaran langsung dari studio
yang berukuran 9×11 meter dan tanpa akustik yang memadai. Acaranya
terbatas, hanya berupa permainan piano tunggal oleh B.J. Supriadi dengan
pengaruh acara Alex Leo.
Lebih setahun setelah siaran
pertama, barulah keberadaan TVRI dijelaskan dengan pembentukan Yayasan
TVRI melalui Keppres No. 215/1963 tertanggal 20 oktober 1963. Antara
lain disebutkan bahwa TVRI menjadi alat hubungan masyarakat (mass
communication media) dalam pembangunan mental/spiritual dan fisik
daripada Bangsa dan Negara Indonesia serta pembentukan manusia sosialis
Indonesia pada khususnya.Sampai tahun 1989, TVRI merupakan operator tunggal di bidang penyiaran televise.Jadi
sebelum satelit palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal
telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni yang jangkauannya masih
dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau
pulau-pulau kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel
Laut) yang mahal dan sulit dipergunakan.
Gagasan tentang peluncuran
satelit bagi telekomunikasi domestik di Indonesia bisa ditelusuri asal
muasalnya dari sebuah konferensi di Janewa tahun 1971 yang disebut
WARCST (World Administrative Radio Confrence on Space Telecomunication).
Pada konferensi itu di tampilkan
pila pameran dari perusahaan raksasa pesawat terbang Hughes. Perusahaan
inilah yang mengusulkan ide pemanfaatan satelit bagi kepentingan
domestik Indonesia. Hal tersebut disambut oleh Suhardjono yang berlatar
belakang militer dan membawa masalah satelit itu sampai ke Presiden RI.
Selain pertimbangan kelayakan ekonomi dan teknis, sejarah peluncuran
satelit ini juga diwarnai oleh kepentingan politik dimana hubungan
antara Indonesia dengan negara- negara lain sudah mulai bersahabat. Di
sisi lain, satelit memungkinkan penyebaran luas ideologi negara ke
masyarakat luas melalui TV, satelit juga menguntungkan secara ekonomi.Komunikasi
tentang cara-cara menggali sumber daya alam dapat berlangsung dengan
mudah. Ini berlaku untuk kasus tembaga pura (Freeport) dan di Dili.
Peluncuran satelit Palapa di Cape Canaveral, Florida, bulan Agustus 1976
pada panel peluncuran terdapat 3 orang Indonesia dan perwakilan dari
perusahaan NASA dan Hughes.
Kejadian ini diresmikan juga
melalui pidato kenegaraan oleh presiden Soeharto di Jakarta, tanggal 16
Agustus 1976. ini merupakan satu- satunya proyek teknologi yang mendapat
tempat terhormat di gedung Parlemen. Namun peluncuran satelit itu
merupakan kebijakan nasional yang gagasan awalnya dicetuskan oleh
pemerintah. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Indonesia pernah
mengalami ancaman perpecahan. Untuk mempersatukan tanah air yang sangat
luas ini diperlukan sarana perhubungan yang mencakup seluruh wilayah
nusantara. Proses kelahiran satelit ini hanya melibatkan sedikit
teknokrat dan teknolog yang berpihak pada kepentingan Orba.
Minggu, 08 Juni 2014
TUGAS RESENSI BUKU
Oleh : Deny Kurniawan
(11111865) (3KA25)
PARADIGMA KEBUDAYAAN ISLAM
A. IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Paradigma Kebudayaan Islam (Studi Kritis dan Refleksi Historis)
Pengarang : Faisal Ismail
Tahun Terbit : 1988
Kota/ Penerbit : Yogyakarta: Titian Ilahi Press
Jumlah Halaman : 202 halaman
B. SINOPSIS
BAG.1 (POTRET KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA)
Menurut W.S Rendra, keberadaan umat Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Tidak fungsional dalam artian sosok dan peran serta umat Islam dalam masyarakat sangat kecil.
2. Mengalami kemunduran dalam bidang budaya dan science
3. Cenderung tertutup terhadap kritik dan saran dari luar
Dalam bagian ini juga dijelaskan bahwa Fanatisme madzhab menjadi salah satu biang krisis bangsa. Fanatisme tersebut merupakan kelanjutan dari politik devide et impera pada
rezim penjajah. Tertutupnya suatu madzhab terhadap madzhab lain menjadi
pemicu pertikaian di antara mereka. Disamping masih terkungkung dalam
pemahaman fanatis, umat Islam juga kurang antusias terhadap
persoalan-persoalan kultural. Maka dapat dikatakan perhatian umat Islam
terhadap kebudayaan di Indonesia “nol besar”. Padahal Islam
adalah nilai esensi, isi, dan pemahaman yang harus memancar dan menjiwai
kreativitas dan produk budaya dan kebudayaan.
Aspek lain penyebab krisis budaya Islam adalah pandangan bahwa Islam hanya sebagai “Ibadat”
saja dalam pengertian sempit. Padahal lingkup Islam sangat luas
meliputi seluruh segi kehidupan baik dunia, akhirat, sosiokultural,
seni, ekonomi, politik, dsb.
Menghadapi
berbagai persoalan di atas maka harus diadakan strategi kebudayaan dan
pembaharuan pendidikan Islam. Ari Baswedan mengatakan dalam simposium
musium pendidikan Islam (Oktober 1980) bahwa pengembangan musium budaya
Islam harus diiringi dan ditunjang oleh kebudayaan. Pemikiran inilah
yang melatarbelakangi lahirnya “ strategi kebudayaan dalam menyongsong
pembaharuan pendidikan Islam”.
Mukti
Ali menyebutkan 3 kekurangan universitas Islam, yakni : kekurangan
dalam penguasaan bahasa, metode sistem setiap disiplin ilmu, dan
mentalitas keilmuan.
Menyikapi
hal ini, Pakar Perbandingan Agama menyatakan bahwa ada 6 hal pokok yang
harus diajarkan oleh Perguruan Tinggi Islam yakni : prinsip perubahan
masyarakat, menumbuhkan berpikir kritis dan jiwa optimisme, mengajarkan methode of approach (cara untuk memecahkan masalah), menanamkan disiplin intelektual, serta menumbuhkan budaya gemar membaca.
Gagasan Gazalba yang selalu ditorehkan dalam setiap karyanya adalah “agama dan kebudayaan adalah setingkat”. Ia juga berpendapat bahwa “ijtihad merupakan hukum sekularisasi Islam” akan tetapi gagasan Gazalba ini ditolak sebagian masyarakat sebab dipandang bertentangan dengan nilai-nilai Islam
Melihat
hal ini, maka perlu diadakan pembaharuan dalam studi keilmuan Islam di
universitas-universitas Islam sebab kualitas universitas Islam sangat
menentukan mutu pendidikan masa depan.
BAG. 2 KEBERIMANAN DAN KEBERSENIMANAN
Dalam
forum diskusi fakultas Adab dan Kebudayaan UIN Sunan Kalijaga,
diperoleh kesepakatan bahwa “ kesenian hendaknya harus dikaitkan dengan
agama agar tidak terlalu liberal”. Umat Islam di Indonesia miskin
akan kesenian. Hal ini disebabkan faktor-faktor diantara : kesenian
umat Islam berjalan secara tradisional, kurang kreatif, inovatif,
variatif, serta keinggalan dalam bobot kualitas. Kesenian memiliki subordinasi positif, dan negatif terhadap agama. Salah satu subordinasi
negatif adalah ketegangan antara nilai-nilai agama termasuk
hukum-hukumnya yang keras dengan nilai-nilai kesenian yang longgar.
Sementara subordinasi positif nya adalah dasar kuat untuk memperkembangkan kesenian karena kesenian selalu mengandung nilai-nilai.
Seorang
seniman mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan imajinasinya atau
dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang penyair misalnya
menunjukkan suatu pemberontakan akan belenggu jiwa dengan berimajinasi
seolah-olah melawan kehendak Tuhan. Atau seorang penyair melakukan cara
penghayatan intens sehingga terjadi “ manunggaling kawula Gusti” (bersatunya hamba dan Tuhan dalam realitas tunggal. Dalam hal ini penyair terkesan liberal, menuntut “kebebasan berimajinasi dalam mencipta”
Dalam
mengungkapkan imajinasi, seorang seniman terkadang mempersonifikasikan
sosok-sosok yang diagungkan dalam Islam. Misal, imajinasi Nabi Muhammad
SAW dalam cerita “Langit Makin Mendung (dalam novel Satanic Verses).
Tak jarang pula seorang penyair mengatakan bawa “penafsiran tentang
Tuhan tidak boleh dimonopoli”. Dan disambung dengan pernyataan “ saya
jangan ditanya, apakah saya ber-Tuhan atau tidak, itu urusan pribadi
saya.” Ungkapan penyair maksudnya adalah memberikan kejelasan bahwa
Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang terdapat dalam “mind” atau pikirannya bukan bukan Tuhan yang hidup, bukan Tuhan yang menjadi sasaran kita dalam beribadat.
Menghadapi
kasus seperti di atas seseorang selain mengasah daya kreativitas
intuisi dan imajinasinya dalam berkarya, hal yang paling penting adalah
mendalami penghayatan dan pengamalan agama secara intens, sehingga
terdapat keseimbangan antara emosi dan akal, dalam artian terjadi
keselarasan antara kebersenimanan dan keberimanan.
BAG. 3 ( ISLAM, MODERNITAS, DAN MORALITAS)
Dunia
mode terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Mulai dari
mode jadul, pertengahan, hingga modern. Sebagai contoh mode pakaian,
yang dulunya hanya berorientasi untuk menutup aurat, kini menjadi media
promosi aurat. Dari yang dulunya berlengan panjang, memendek dan terus
memendek hingga tak berlengan. Budaya westernisasi ini semakin mewabah
terutama di kalangan remaja. Terlebih lagi dengan adanya kontes “ratu
kecantikan” yang menampilkan keseksian para wanita dengan kostumnya yang
vulgar. Sebagian orang berpendapat bahwa hal tersebut bernilai estetik tinggi. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah mengapa justru aurat yang dipertontonkan ? bukan soft skill atau kecerdasan intelektual saja?
Kasus di atas adalah penyebab degradasi moral yang sering disebut sebagai penyakit mental epidemik
yang menjangkiti para konsumennya. Islam memberikan kelonggaran bahkan
kebebasan dalam hal cipta-mencipta mode. Akan tetapi mode dapat dicipta
sesuai dengan keperluan, kebutuhan, situasi dan kondisi, namun harus
dalam batas-batas moral Islam.
Agama Islam juga
berfungsi sebagai alternatif terhadap berbagai permasalahan sosial
budaya. Sebagai contoh, di Amerika Serikat terdapat sekelompok anak
jalanan yang menamakan diri mereka “The Flower Children” yang menginginkan kedamaian dan perlindungan di dunia. Di samping itu juga terdapat seorang wisudawan dengan nilai cumlaude merobek
ijazahnya sebab merasa bahwa ilmu yang selama ini ia dapatkan tidak
mampu menjawab persoalan-persoalan yang ia hadapi. Ia merasa di tengah
majunya iptek di negaranya belum cukup untuk membebaskan negaranya dari
perang dan mengisi jiwanya yang kering akan pengetahuan spiritual.
Permissive society
merupakan produk sekularisme, suatu faham yang mengabaikan, melepaskan
dan menanggalkan norma-norma agama, nilai moral dan agama. Mereka tidak
mengakui “absolute standard of behaviour” sehingga terjadilah moral chaos (kekacauan moral) dan lebih jauh lagi membawa mereka kepada keadaan “lawless society” (masyarakat tanpa hukum). Sebagai contoh, di AS, pada tahun 1969 diperkirakan 400.000 kelahiran tidak syah sebab
berasal dari seks bebas, hubungan gelap, dsb. Dalam hal ini agama
berfungsi ntuk mengatur, membimbing hidup dan kehidupan manusia. Islam
telah membuat garis demarkasi antara “ yang ma’ruf dan yang munkar, yang
halal dan haram, dsb”. Maka jelaslah bahwa permissive society sangat bertentangan dengan Islam.
Perbedaan mendasar antara moralitas Islam dan moralitas baru adalah: Moralitas Islam
merupakan standar dan ukuran baik dan buruk yang telah ditetapkan Islam
sejak kurun Muhammad SAW yang berlaku hingga sekarang bahkan sepanjang
masa. Misal, perzinaan dilarang, berarti untuk selamanya dilarang. Moralitas baru merupakan sistem yang berkembang dalam budaya masyarakat
Barat dan tidak didasarkan pada kepercayaan tentang Tuhan dan akhirat.
Misal, budaya permissivme, beberapa citra kehidupan seksual seperti lesbianisme, incest, masochisme, dsb.
Menurut Kuntcoroningrat, modernisasi merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan suatu bangsa atau negara untuk “menyesuaikan diri” dengan konstelasi
dunia pada suatu kurun tertentu di mana bangsa tersebut hidup.
Sedangkan westernisasi adalah meniru dan mengadaptasi gaya hidup Barat,
meniru-niru dan mengambil alih cara hidup Barat. Keduanya sering
mengalami kekacauan makna sehingga diperlukan pemahaman khusus terhadap
keduanya. Penerapan modernisasi yang salah dilakukan oleh negara Turki
dan Iran. Pada tahun 1924, Mustafa Kemal Pasha, perdana menteri Turki
mengadakan pembangunan dengan menerapkan konsep-konsep Barat. Ia
mengganti hukum Islam dengan sistem hukum Swiss. Hakim-hakim dilucuti
dan dilebur dalam peradilan sekuler. Sementara Iran pada rezim M. Reza
Pahlevi mengadakan praktik modernisasi besar-besaran yakni menciptakan
perbaikan-perbaikan sosial ekonomi secara selektif.
Manusia modern merupakan manusia yang bercirikan sebagai berikut :
a. Siap sedia mengambil pelajaran baru dan terbuka untuk pembaharuan, invasi, dan perubahan.
b. Mampu menganalisis permasalahan sampai ke akarnya.
c. Bersikap demokratis.
d. Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan.
e. Terencana dan terorganisasi
f. Memiliki optimisme tinggi bahwa dunia ini dapat diperhitungkan, dan orang-orang di sekitarnya dapat diandalkan
g. Respek terhadap martabat orang lain
h. Percaya pada iptek sebagai secara teoritis dan praktis
i. Percaya pada keadilan terbagi (distributive justice) dalam artian bahwa pahala sesuai dengan kerja keras.
BAG. 4 ISLAM DAN KEBUDAYAAN GLOBAL
Pada
masa daulah Umayah hingga Abbasiyah Islam mengalami masa kejayaan. Hal
tersebut dibuktikan dengan beberapa peninggalan baik yang berupa fisik,
(misal masjid Cordova, Masjid Agung Al-Hamra, perpustakaan Baitul Hikmah
dsb) maupun peninggalan dalam bidang keilmuan, seperti Ibnu Sina
(kedokteran), Khawaritsmi (matematika), Al-Hakam (bidang ilmu pengetauan
dan kesusasteraan), Ibnu Rusyd, dsb.
Pada
abad 8-13 Masehi, Islam berada di atas panggung kejayaan dan kebudayaan
dunia. Menurut catatan Hitti, seorang sarjana Libanon, Umat Islam telah
berjasa dalam menyeberangkan “warisan kebudayaan klasik Yunani kepada
Eropa (munculnya Aristoteles, Plato, Galenus, dll)” serta mengantarkan bangsa Eropa menyambut abad Renaissance. Salah satu sumbangan terbesar umat Islam adalah menterjemahkan
karya-karya Yunani dengan bahasa Arab, dan sebaliknya bangsa Eropa
menterjemahkan karya-karya Islam ke bahasa Yunani.
Akan
tetapi, dewasa ini umat Islam menalami suatu krisis yang berkepanjangan
sebagaimana diungkapkan Mukti Ali :”Krisis dunia dan ancaman yang
mengancam umat manusia adalah krisis rohani dan kekosongan moral”.
Apabila di zaman 8-13 umat Islam berada di puncak keemasan, maka di era
modern ini umat Islam berada di abad “kecemasan”. Siklus industrialisme,
hedonisme, dan materialisme memberikan gambaran bahwa manusia saat ini
kembali ke masa jahiliyah. Budaya-budaya yang ada saat ini tidak
mencerminkan kekhasan Islam namun justru bernilai pola masyarakat Barat.
Suatu alternatif peradaban telah diramalkan oleh F.C.S Northop bahwa peradaban yang akan datang adalah “persenyawaan yang selaras dari estetik teoritik. (integral as harmonius of the aesthetic-theoritic) yakni peradaban yang bertumpu pada suatu sistem super keagamaan ideal.
Dinamika kebudayaan Islam akan terus mewarnai dunia. Organisasi-organisasi Islam Internasional seperti World
Muslim Congres (Karachi),Rabithah All-Islamy (World Muslim League di
Mekah) A’la al ‘Alamy Lil-Masaajid (Dewan Masjid sedunia) memperluas penyebaran ajaran Islam melalui brosur-brosur taraf Internasional. Sementara itu, di London juga diadakan Festival Dunia Islam yang
berisi pameran hasil-hasil pemikiran keagamaan, kesenia, literatur,
arsitektur, musik, dan karya-karya umat Islam yang lain.
Menghadapi
realita ini, Charles J. Adams seorang guru besar dari McGill University
mengatakan bahwa “Tercapainya kemerdekaan politik dan berkembangnya
kesadaran nasional di kalangan umat Islam disertai satu renaissance kebudayaan.”
Toynbee mengatakan pula bahwa Islam harus tampil untuk menolong
peradaban dunia dan menolong seluruh dunisa kemanusiaan karena misi
utama Islam sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an adalah memberi rahmat bagi
seluruh ummat manusia.
Minggu, 27 April 2014
Biografi tentang tokoh dunia Christopher Columbus
Columbus bukanlah orang pertama yang tiba di Amerika, yang ia dapati sudah diduduki. Ia juga bukan orang Eropa pertama yang sampai ke benua itu karena sekarang telah diakui secara meluas bahwa orang-orang Viking dari Eropa Utara telah berkunjung ke Amerika Utara pada abad ke 11 dan mendirikan koloni L'Anse aux Meadows untuk jangka waktu singkat. Terdapat perkiraan bahwa pelayar yang tidak dikenali pernah melawat ke Amerika sebelum Columbus dan membekalkannya dengan sumber untuk kejayaannya. Terdapat juga banyak teori mengenai ekspedisi ke Amerika oleh berbagai orang sepanjang masa itu.
Colombus, dalam upaya mencari jalan dari Eropa ke Timur, tak sengaja menemui benua Amerika yang membuatnya lebih berpengaruh dalam sejarah dunia, di luar dugaannya sendiri. Penemuannya sekaligus merupakan mahkota eksplorasi dan kolonisasi Dunia Baru dan sekaligus pula merupakan tonggak penting dalam sejarah. Colombus bagaikan membuka pintu bagi bangsa Eropa dua benua untuk pemukiman baru, menyebar penduduk dan menyediakan sumber kekayaan mineral dan isi bumi yang pada gilirannya mengubah wajah Eropa. Berbarengan dengan itu, penemuannya juga mengakibatkan hancurnya kebudayaan bangsa Indian. Dalam jangka panjang, penemuan itu melahirkan satu bangsa baru di benua belahan Barat, yang dengan amat cepatnya membedakan diri dengan bangsa Indian selaku penduduk asli. Walhasil, Colombus membawa perubahan besar bagi bangsa-bangsa di Dunia Lama.
Garis besar kisah Colombus bukan masalah baru. Dia dilahirkan di Genoa, Itali, tahun 1451. Tatkala berangkat dewasa, dia menjadi nakhoda kapal dan seorang navigator yang cekatan. Akhirnya Colombus yakin bukan mustahil menemukan jalan lebih praktis ke daerah Asia di timur dengan cara berlayar ke arah barat melintasi Samudra Atlantik dan dia dengan tekun merintis tekadnya. Tentu saja niat besar ini tidak bakal terlaksana tanpa biaya cukup. Karena itulah Colombus membujuk Ratu Isabella I menyediakan anggaran untuk ekspedisi percobaannya.
Kapalnya melepas sauh pelabuhan Spanyol tanggal 3 Agustus 1492. Melabuh pertama di Kepulauan Canary di lepas pantai Afrika. Membongkar sauh di Kepulauan Canary tanggal 6 September dan berlayar laju arah ke barat. Sebuah pelayaran yang bukan main panjang, sehingga tidak aneh jika para awak kapal merasa ngeri dan kepingin balik saja. Colombus? Tidak! Perjalanan mesti diteruskan, sekali layar terkembang pantang digulung. Dan tanggal 2 Oktober 1492 bagaikan seutas sutera hijau daratan tampak di haluan.
Colombus kembali ke Spanyol bulan Maret berikutnya dari penjelajahan yang dahsyat itu disambut orang dengan penuh penghormatan. Sesudah itu dia melakukan serentetan pelayaran melintas Atlantik dengan harapan menjejakkan kaki di Cina dan Jepang. Tetapi sia-sia! Colombus tetap bersiteguh pada pikirannya bahwa dia sudah menemukan jalur perjalanan ke Asia Timur jauh sebelum orang lain sadar.
Ratu Isabella menjanjikan Colombus jadi gubernur di pulau mana pun yang ditemuinya. Tetapi, selaku administrator dia betul-betul tidak becus sehingga dipecat dari jabatannya dan dikirim pulang ke Spanyol dengan tangan terbelenggu. Tetapi, sesampainya di Spanyol dia dibebaskan hanya saja tak pernah diberi jabatan lagi. Kabar angin mengatakan Colombus mati dalam kemiskinan tanpa ada dana apa pun. Tatkala kematiannya di tahun 1506 –kabar lain lagi– ada jugalah sedikit harta kekayaannya.
Kapal “Nina,” “Pinta” dan “Santa Maria” berlayar menuju Dunia Baru
Jelas, pelayaran pertama Colombus merupakan perubahan revolusioner bagi sejarah Eropa, dan malahan punya pengaruh lebih besar bagi Benua Eropa. Anak-anak sekolah semua menghafal tahun 1492 merupakan tahun penting. Walau begitu masih ada banyak kemungkinan yang keberatan menempatkan nama Colombus dalam urutan daftar buku ini.
Salah satu keberatan adalah karena bukannya Colombus orang Eropa pertama yang menemukan Dunia Baru. Leif Ericson, pelaut Viking, berabad-abad sebelum Colombus sudah menjejakkan kaki di Benua Amerika dan bolehlah dipercaya beberapa orang Eropa lain juga sudah menyeberangi Samudera Atlantik di masa-masa antara Leif Ericson dan Colombus.
Dari sudut sejarah, Leif Ericson bukanlah tokoh penting. Hal-hal menyangkut penemuannya belum pernah tersebar luas, begitu pula tidak meninggalkan perubahan apa pun baik di Amerika maupun Eropa. Sebaliknya, berita penemuan Amerika oleh Colombus menyebar bagai kilat ke seluruh Eropa. Hanya beberapa tahun sekembalinya Colombus, dan sebagai akibat langsung dari penemuannya, banyak ekspedisi tambahan berdatangan di Dunia Baru dan penaklukan serta kolonisasi pun mulailah.
Seperti halnya tokoh-tokoh lain di dalam buku ini, Colombus mudah terkena gangguan pelbagai komentar seakan-akan apa yang ia lakukan orang lain juga lakukan andaikata Colombus tidak pernah hidup di dunia. Eropa abad ke-15 M berada dalam keadaan risau dan berkemelut: dunia perdagangan berkembang, penjelajahan daerah baru tak terelakkan. Bangsa Portugis nyatanya memang aktif amat mencari arus jalan baru ke Timur, pada saat-saat menentukan sebelum Colombus.
“Pendaratan Columbus”oleh John Vanderlyn
Adalah mungkin sekali Amerika cepat atau lambat ditemukan oleh orang Eropa; bahkan mungkin sekali kalaulah ada penundaan, saatnya tidak begitu lama. Tetapi perkembangan berikutnya akan sangat jauh berbeda apabila Amerika ditemukan –katakanlah tahun 1510– oleh ekspedisi orang Perancis atau Inggris dan bukannya tahun 1492 oleh Colombus. Dengan dalih apa pun memang nyatanya Colombuslah orang yang menemukan benua Amerika.
Kemungkinan keberatan ketiga adalah, bahkan sebelum perjalanan Colombus banyak orang-orang Eropa abad ke-15 yang sudah maklum bahwa sesungguhnya bumi ini bulat bentuknya. Teori ini sudah diungkapkan oleh filosof Yunani berabad-abad sebelumnya, dan pembenaran yang tak tergoyahkan dari hipotesa Aristoteles sudah cukup untuk meyakinkan kaum terpelajar Eropa di tahun 1400-an. Sementara itu, Colombus sendiri tidak terkenal orang yang menunjukkan bahwa bumi ini bulat. (Paling tidak, dia tidak berhasil melakukannya). Dia masyhur dalam hal penemuan Dunia Baru, yang baik orang Eropa abad ke-15 atau Aristoteles tak tahu menahu adanya benua Amerika.
Akhlak Colombus tidaklah sepenuhnya dikagumi. Dia terkenal kikir. Sifat inilah yang menyebabkan dia menghadapi kesulitan memperoleh tunjangan dana dari Ratu Isabella karena Colombus terlampau menampakkan keserakahannya tatkala melakukan tawar-menawar. Juga –walaupun tidak pantas menuduhnya menurut ukuran etika jaman sekarang– dia memperlakukan orang-orang Indian dengan kekejaman yang sangat. Karena itu, daftar buku ini bukanlah terdiri dari orang-orang yang paling bijak bestari dalam sejarah, melainkan orang yang paling berpengaruh, dan dalam kerangka ukuran ini Colombus menempati urutan nyaris paling atas.
Sumber : http://wilkepedia/kumpulan-biografi-biografi-cristopher.html
Kamis, 20 Maret 2014
Sejarah Jakarta – Awal Hingga Sekarang
Sebagai orang Indonesia tentunya mengenal kota Jakarta sebagai ibukota negara ini. Kota berpenduduk 12 juta jiwa ini merupakan sasaran penduduk dari segala penjuru Indonesia untuk mencari nafkah. Mereka cenderung menjadikan Jakarta sebagai ladang mencari pekerjaan dengan mempertimbangkan gaji penghasilan yang lebih besar ketimbang di wilayah propinsi lain di Indonesia.
Hal tersebut dapat dipahami mengingat Jakarta merupakan kota metropolitan yang berkembang sangat cepat. Dalam situs luar www.skyscrapercity.com bahkan menempatkan ibukota Jakarta kedalam 50 besar kota dengan biaya termahal! Situs www.city-infos.com yang mengkhususkan menyediakan informasi mengenai kota-kota dunia menempatkan Jakarta kedalam 50 kota terbaik dunia. Pada tahun 2011, penulis Skyscraper Cities by Egbert Gramsbergen and Paul Kazmierczak menempatkan Jakarta kedalam 25 kota terbaik didunia berdasarkan kategori perkembangan jumlah gedung pencakar langit yang berkembang perlahan namun cepat.
Sejarah Jakarta – Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia ke Jakarta
Sejarah Jakarta

Dibalik keruwetan dan kepadatan kota jakarta, sejarah jakarta dimulai sekitar 5 abad yang lalu yang diawali pada sebuah bandar kecil didaerah sungai Ciliwung. Kota ini belum bernama Jakarta kala itu, namun sudah dikenal sebagai kota tempat melakukan aktivitas perdagangan yang ramai. Informasi pasti yang mengungkapkan sejarah jakarta lebih jauh sangat sedikit namun dapat ditemui pada prasasti pada masa lalu.
Pada abad-16 ketika orang eropa (portugis) mulai datang ke nusantara ini, terdapat penulis eropa yang memberi nama daerah yang masih asing ini dengan sebutan ‘kalapa’ .Kalapa yang dimaksud persisnya merujuk kepada bandar terbesar pada jaman kerajaan Hindu yang dikenal dengan nama ‘Sunda’ yang berada kurang lebih 40 km di daerah yang masih berupa pedalaman (diperkirakan berada di kota Bogor saat ini).
Ketika pertama kali menjajaki kota ‘kalapa’ ini, rombongan orang eropa yang merupakan orang portugis diserang oleh seorang pemuda yang bernama Fatahillah. Nama ini yang kemudian dijadikan sebuah nama jalan dan museum yang sangat terkenal bagi penduduk jakarta. Pemuda ini berasal dari kerajaan yang berkuasa didaerah Kalapa kemudian merubah sebutan ‘Sunda’ dan ‘Kalapa’ (Sunda Kelapa) menjadi Jayakarta yang memiliki arti ‘Kemenangan yang tercapai‘ pada tanggal 22 Juni 1527. Peristiwa tersebut lah yang akhirnya menjadi tonggak kelahiran atau ulang tahun kota jakarta setiap tahunnya.
Seriring dengan perkembangan waktu, orang-orang belanda masuk dan menguasai nusantara pada abad-16 juga turut menguasai Jayakarta pada masa itu sehingga nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Penamaan kata Batavia oleh orang belanda didasari oleh adanya kemiripan dengan keadaan di negeri Belanda pada masa itu yang masih banyak terdapat rawa-rawa. Orang belanda mulai membangun kanan, bendungan dan pengairan untuk mencegah banjir. Mereka juga membangun kota Batavia ini termasuk dengan balai kota sebagai pusat / markas utama mereka saat itu. Adapun Balai Kota ini masih berdiam dan menjadi bukti sejarah jakarta hingga saat ini yang kemudian dikenal dengan nama Museum Benteng Fatahillah.
Pembangunan kota oleh orang belanda lebih cenderung berkembang kearah selatan Batavia ( Jalur Jakarta Pusat ke Selatan saat ini ). Perkembangan yang maju secara cepat membuat lingkungan kota menjadi cepat rusak sehingga membuat pimpinan Belanda saat itu harus memindahkan kegiatan pemerintahaan ke lokasi yang lebih tinggi yang bernama Weltervreden. Kekuasaan belanda ini terus bertahan hingga awal abad-20 ketika semangat nasionalisme Indonesia mulai dikobarkan oleh sekelompok mahasiswa di Batavia.
Ketika Jepang masuk ke nusantara dan berhasil menduduki nusantara pada tahun 1942 – 1945, nama Batavia diubah oleh orang Jepang menjadi Jakarta. Kota ini yang akhirnya menjadi tempat pertama dibacakan proklamasi kemerdekaan RI dengan pengibaran bendera merah putih oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah Jepang menyerah tanpa syarat selepas dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu dan Indonesia mendapatkan kedaulatan secara resmi pada tahun 1949 serta menjadi anggota Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) pada tahun 1966 dengan memasukkan Jakarta sebagai ibukota resmi.
Hal tersebut mendorong pemerintahan untuk berfokus dalam membangun pusat perekonomian di kota jakarta ini seperti gedung-gedung pemerintahaan, kedutaan negara sahabat. Ibukota jakarta terus berkembang sebagai kota metropolitan yang modern hingga saat ini.
Hal tersebut dapat dipahami mengingat Jakarta merupakan kota metropolitan yang berkembang sangat cepat. Dalam situs luar www.skyscrapercity.com bahkan menempatkan ibukota Jakarta kedalam 50 besar kota dengan biaya termahal! Situs www.city-infos.com yang mengkhususkan menyediakan informasi mengenai kota-kota dunia menempatkan Jakarta kedalam 50 kota terbaik dunia. Pada tahun 2011, penulis Skyscraper Cities by Egbert Gramsbergen and Paul Kazmierczak menempatkan Jakarta kedalam 25 kota terbaik didunia berdasarkan kategori perkembangan jumlah gedung pencakar langit yang berkembang perlahan namun cepat.
Sejarah Jakarta – Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia ke Jakarta
Sejarah Jakarta
Dibalik keruwetan dan kepadatan kota jakarta, sejarah jakarta dimulai sekitar 5 abad yang lalu yang diawali pada sebuah bandar kecil didaerah sungai Ciliwung. Kota ini belum bernama Jakarta kala itu, namun sudah dikenal sebagai kota tempat melakukan aktivitas perdagangan yang ramai. Informasi pasti yang mengungkapkan sejarah jakarta lebih jauh sangat sedikit namun dapat ditemui pada prasasti pada masa lalu.
Pada abad-16 ketika orang eropa (portugis) mulai datang ke nusantara ini, terdapat penulis eropa yang memberi nama daerah yang masih asing ini dengan sebutan ‘kalapa’ .Kalapa yang dimaksud persisnya merujuk kepada bandar terbesar pada jaman kerajaan Hindu yang dikenal dengan nama ‘Sunda’ yang berada kurang lebih 40 km di daerah yang masih berupa pedalaman (diperkirakan berada di kota Bogor saat ini).
Ketika pertama kali menjajaki kota ‘kalapa’ ini, rombongan orang eropa yang merupakan orang portugis diserang oleh seorang pemuda yang bernama Fatahillah. Nama ini yang kemudian dijadikan sebuah nama jalan dan museum yang sangat terkenal bagi penduduk jakarta. Pemuda ini berasal dari kerajaan yang berkuasa didaerah Kalapa kemudian merubah sebutan ‘Sunda’ dan ‘Kalapa’ (Sunda Kelapa) menjadi Jayakarta yang memiliki arti ‘Kemenangan yang tercapai‘ pada tanggal 22 Juni 1527. Peristiwa tersebut lah yang akhirnya menjadi tonggak kelahiran atau ulang tahun kota jakarta setiap tahunnya.
Seriring dengan perkembangan waktu, orang-orang belanda masuk dan menguasai nusantara pada abad-16 juga turut menguasai Jayakarta pada masa itu sehingga nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Penamaan kata Batavia oleh orang belanda didasari oleh adanya kemiripan dengan keadaan di negeri Belanda pada masa itu yang masih banyak terdapat rawa-rawa. Orang belanda mulai membangun kanan, bendungan dan pengairan untuk mencegah banjir. Mereka juga membangun kota Batavia ini termasuk dengan balai kota sebagai pusat / markas utama mereka saat itu. Adapun Balai Kota ini masih berdiam dan menjadi bukti sejarah jakarta hingga saat ini yang kemudian dikenal dengan nama Museum Benteng Fatahillah.
Pembangunan kota oleh orang belanda lebih cenderung berkembang kearah selatan Batavia ( Jalur Jakarta Pusat ke Selatan saat ini ). Perkembangan yang maju secara cepat membuat lingkungan kota menjadi cepat rusak sehingga membuat pimpinan Belanda saat itu harus memindahkan kegiatan pemerintahaan ke lokasi yang lebih tinggi yang bernama Weltervreden. Kekuasaan belanda ini terus bertahan hingga awal abad-20 ketika semangat nasionalisme Indonesia mulai dikobarkan oleh sekelompok mahasiswa di Batavia.
Ketika Jepang masuk ke nusantara dan berhasil menduduki nusantara pada tahun 1942 – 1945, nama Batavia diubah oleh orang Jepang menjadi Jakarta. Kota ini yang akhirnya menjadi tempat pertama dibacakan proklamasi kemerdekaan RI dengan pengibaran bendera merah putih oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah Jepang menyerah tanpa syarat selepas dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu dan Indonesia mendapatkan kedaulatan secara resmi pada tahun 1949 serta menjadi anggota Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) pada tahun 1966 dengan memasukkan Jakarta sebagai ibukota resmi.
Hal tersebut mendorong pemerintahan untuk berfokus dalam membangun pusat perekonomian di kota jakarta ini seperti gedung-gedung pemerintahaan, kedutaan negara sahabat. Ibukota jakarta terus berkembang sebagai kota metropolitan yang modern hingga saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
